-->

Follow Us

Contact Form

Name

Email *

Message *

About Me

authorHello, my name is Jack Sparrow. I'm a 50 year old self-employed Pirate from the Caribbean.
Learn More →

Tags

Berita (4) Buku (4) Download (4) Galeri (3) PPDB (1) Simpatika (1) Tafsir Al Quran (1)

Categories

Breaking

Recent

Surat An-Naba Ayat 1 - 2


Surat An-Naba Ayat 1

  عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ 

Terjemah Arti: Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? 

    Makna (Isi Kandungan) ayat 1-3. Tentang apa sebagian dari orang orang kafir quraisy bertanya kepada sebagian lainnya? Mereka saling bertanya tentang sebuah berita besar, yaitu al-quran yang agung yang mengabarkan tentang kebangkitan yang di ragukan. Yang di ragukan, bahkan di dustakan oleh orang orang kafir. 

    Tafsir Al-Muyassar 1. Tentang apa orang-orang musyrik saling bertanya-tanya setelah Allah mengutus Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada mereka? 

    Tafsir Al-Mukhtashar  1. عَمَّ يَتَسَآءَلُونَ (Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?) Setelah Rasulullah diutus kemudian mengabarkan kepada kaumnya tentang keesaan Allah, kebangkitan setelah mati, dan membacakan kepada mereka al-Qur’an, mereka kemudian saling bertanya satu sama lain: “Apa yang terjadi dengan Muhammad? Dan apa yang dikabarkannya itu?” Maka Allah menurunkan ayat ini. 



    Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir  1. Apa yang saling mereka pertanyakan? Apa yang mereka pertanyakan itu memberi tekanan terhadap mereka. Diriwayatkan dari Ibnu Jazir dan Ibnu Abu Hatim dari Hasan Al Bashri, beliau berkata: Ketika Nabi tengah diutus (masa kenabian), mereka –orang musyrik- saling bertanya-tanya. Maka turunlah ayat: “Apa yang saling mereka pertanyakan?” 

    Tafsir Al-Wajiz  1-3. Allah memulai di awal-awal surat ini dengan bantahan atas kaum musyrik dimana mereka mengingkari hari kebangkitan; Mereka orang-orang kafir ingkar ketika datang kepada mereka utusan Allah (Rasulullah) yang membawa Al Qur’an. Disebutkan bahwasanya mereka (kaum musyrikin) meragukan dan terkejut dengan (kabar) tentang hari kebangkitan; Maka jadilah mereka semua saling bertanya-tanya antara satu sama lain diantara mereka berkenaan dengan urusan yang besar ini dan kabar yang sangat penting ini, yang mereka dapat dari Allah (melalui utusan-Nya). Mereka berselisih satu sama lain dengan perselisihan yang amat; 

    Diantara mereka ada yang mendustakan Rasul dan hari kebangkitan yang mereka berkata sebagaimana dalam surat Al An’am ayat ke 29 : “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan”, dan diantara mereka ada yang ragu-ragu sehingga mengatakan : “Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya)” {Al Jatsiyah 32}. Dan diantara mereka ada yang bersikeras (menyombongkan diri) dengan mengklaim bahwasanya sesembahan-sesembahan mereka adalah perantara (antara mereka dengan Allah); Dimana mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah.” {Yunus 18}. 

    An-Nafahat Al-Makkiyah Ayat 1 – 5 Maknanya, tentang apakah yang ditanyakan oleh orang-orang yang mendustakan tanda-tanda kebesaran Allah itu? Selanjutnya Allah menjelaskan apa yang mereka pertanyakan tersebut seraya berfirman, “Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentangnya,” yakni, tentang berita besar yang mereka perdebatkan dan telah tersebar di antara mereka tentangnya untuk mendustakan dan mengaggap mustahil. Padahal itulah berita yang tidak perlu diragukan dan dibimbangkan. Tapi mereka yang mendustakan tidak percaya akan bertemu dengan Rabb mereka meski seluruh tanda tanda kebesaran Allah datang pada mereka hingga mereka melihat siksaan yang pedih. Karena itu Allah berfiirman, “Sekali kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali kali tidak; kelak mereka akan mengetahui,” yakni, mereka akan mengetahui bila siksaan menimpa mereka yang dulu mereka dustakan pada saat, “mereka didorong ke neraka jahannam dengan sekuata kuatnya.” (Ath-Thur: 13), dan berkata pada mereka, “inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya.” (Ath-Thur: 14) 

    Tafsir as-Sa'di ( عَمَّ ) Kata ini berasal dari dua huruf : (عن ما ) , kemudian huruf (النون) digabungkan ke huruf ( الميم ) dan akhirnya kedua huruf tersebut menjadi satu huruf yang bertasydid (عَمَّ), dan huruf alif (الألف) dihapus dari ( ما ) dan menjadi ( عَمَّ). Yang berarti tentang apakah mereka saling bertanya-tanya ( Orang-orang kafir diantara mereka) dan jawabanlah adalah : pada ayat kedua dari surat ini, yaitu  ( عَنِ النَّبإ العَظِيْمِ

    Tafsir Juz 'Amma / Syaikh Prof. Dr. Shalih bin al-Fauzan : Telah disebutkan sebelumnya. { عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ } “Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?” (QS. An-Naba:1) Maksudnya: Tentang apa yang ditanya-tanyakan oleh orang-orang yang mendustakan al-Quran dan berita lainnya 

    Tafsir Juz 'Amma / Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Yakni orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah seperti sebagian orang Quraisy.


Surat An-Naba Ayat 2

عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ 

    Terjemah Arti: Tentang berita yang besar, Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan) 1-3. Tentang apa sebagian dari orang orang kafir quraisy bertanya kepada sebagian lainnya? Mereka saling bertanya tentang sebuah berita besar,yaitu al-quran yang agung yang mengabarkan tentang kebangkitan yang di ragukan. Yang di ragukan, bahkan di dustakan oleh orang orang kafir. 
    Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia 2. Sebagian dari mereka bertanya kepada sebagian yang lain tentang berita yang besar, yaitu tentang Al-Qur`ān ini yang diturunkan kepada Rasul mereka, berisi berita tentang kebangkitan. 
    Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, 2. عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ (Tentang berita yang besar) Yakni berita yang agung, yaitu al-Qur’an yang mengabarkan tentang keesaan Allah, pembenaran Rasulullah, dan kejadian hari kebangkitan. 
    Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, 2. Adapun jawabnya: "Mereka saling bertanya tentang kabar yang menakutkan dan menentukan, dan itu adalah hari kiamat" 
    Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili 1-3. Allah memulai di awal-awal surat ini dengan bantahan atas kaum musyrik dimana mereka mengingkari hari kebangkitan; Mereka orang-orang kafir ingkar ketika datang kepada mereka utusan Allah (Rasulullah) yang membawa Al Qur’an. Disebutkan bahwasanya mereka (kaum musyrikin) meragukan dan terkejut dengan (kabar) tentang hari kebangkitan; Maka jadilah mereka semua saling bertanya-tanya antara satu sama lain diantara mereka berkenaan dengan urusan yang besar ini dan kabar yang sangat penting ini, yang mereka dapat dari Allah (melalui utusan-Nya). Mereka berselisih satu sama lain dengan perselisihan yang amat; Diantara mereka ada yang mendustakan Rasul dan hari kebangkitan yang mereka berkata sebagaimana dalam surat Al An’am ayat ke 29 : “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan”, dan diantara mereka ada yang ragu-ragu sehingga mengatakan : “Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya)” {Al Jatsiyah 32}. Dan diantara mereka ada yang bersikeras (menyombongkan diri) dengan mengklaim bahwasanya sesembahan-sesembahan mereka adalah perantara (antara mereka dengan Allah); Dimana mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah.” {Yunus 18}. 
    An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi Ayat 1 – 5 Maknanya, tentang apakah yang ditanyakan oleh orang-orang yang mendustakan tanda-tanda kebesaran Allah itu? Selanjutnya Allah menjelaskan apa yang mereka pertanyakan tersebut seraya berfirman, “Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentangnya,” yakni, tentang berita besar yang mereka perdebatkan dan telah tersebar di antara mereka tentangnya untuk mendustakan dan mengaggap mustahil. Padahal itulah berita yang tidak perlu diragukan dan dibimbangkan. Tapi mereka yang mendustakan tidak percaya akan bertemu dengan Rabb mereka meski seluruh tanda tanda kebesaran Allah datang pada mereka hingga mereka melihat siksaan yang pedih. Karena itu Allah berfiirman, “Sekali kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali kali tidak; kelak mereka akan mengetahui,” yakni, mereka akan mengetahui bila siksaan menimpa mereka yang dulu mereka dustakan pada saat, “mereka didorong ke neraka jahannam dengan sekuata kuatnya.” (Ath-Thur: 13), dan berkata pada mereka, “inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya.” (Ath-Thur: 14) 
    Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di Yaitu tentang kebangkitan setelah kematian, bangkitnya manusia dari kubur mereka untk menghadap Tuhan semesta alam, untuk dihitung amalan mereka dan mereka akan mendapat balasan. Ketika orang-orang kafir mendengarkan kabar ini mereka pun mengingkarinya dengan seburuk-buruknya pengingkaran, lalu mereka saling bertanya tentang berita yang menakjubkan ini yang sangat jarang mereka dengarkan, karena telah datang kepada mereka perkara yang tidak pernah masuk ke otak dan pikiran mereka, ketika seorang Nabi memberitakan bahwa mereka akan dibangkitkan kembali setelah kematian, kemudian mereka akan berpindah ke alam lain, selain dari alam dunia; mereka takjub akan bangkitnya orang-orang mati setelah mereka berganti wujud menjadi abu dan tulang belulang dan akhirnya musnah didalam tanah, mereka takjub akan hal ini. Allah berfirman dalam surah al-Waqi'ah : 47-48 ( (أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ  (47) أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ(48 )  apakah bila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami akan benar-benar dibangkitkan kembali ?; apakah bapak-bapak kami yang terdahulu (juga) ?. Dan mereka mengatakan : ini tidak mungkin terjadi, dan tidak masuk akal, ini mustahil; itu dikarenakan ketidaktahuan mereka akan kekuasaan  Allah yang mampu melakukan hal itu dan tidak ada satupun yang bisa melemahkan-Nya, mereka (orang-orang kafir) tidak berpikir bahwasanya mereka diciptakan dari sesuatu yang tidak ada; maka yang menciptakan mereka pertama kali mampu menciptakan  mereka kembali dari kematiaan bahkan itu hal yang lebih mudah, akan tetapi orang-orang kafir tidak pernah memikirkan akan hal ini dikarenakan akal mereka yang pendek, mereka sekali kali tidak beriman kepada yang ghaib, juga tidak mengetahui kekuasaan Allah yang tidak satupun akan mampu melemahkannya. 
    Dan parahnya pegingkaran mereka terhadap peringatan yang datang, mereka saling bertanya-tanya dan membahas hal itu di majlis-majlis mereka : perkataan apa yang dibawa oleh laki-laki (Nabi) ini ?! Allah berfirman  dalam surah al-Mu'minun : 35-36  ( (أَيَعِدُكُمْ أَنَّكُمْ إِذَا مِتُّمْ وَكُنتُمْ تُرَابًا وَعِظَامًا أَنَّكُم مُّخْرَجُونَ  (35) هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ لِمَا تُوعَدُونَ (36)  Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu)? ; jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu, sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Hud, dan juga kaum-kaum sebelum mereka, mereka mengikuti orang-orang kafir yang pernah ada. Oleh karena itu Allah berfirman ( عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ ) tentang apakah mereka saling bertanya-tanya ?, mereka saling bertanya-tanya tentang hal yang  tidak berwujud, dan tidak ada, ini adalah pertanyaan pengingkaran atas mereka; bagaimana mungkin mereka bertanya-tanya akan hal ini, sungguh mereka tidak membayangkan akan kekuasaan Allah, dan apakah Allah menciptakan alam semesta tanpa ada hikmah dari penciptaan itu !  menciptakan mereka hanya untuk hidup didunia ini, mereka makan dan minum, mereka tumbuh dewasa, dan mereka durhaka, menciptakan  mereka kemudian Dia meninggalkan mereka begitu saja ?! Sudah seharusnya dari setiap penciptaan ada hikmah dan hasil yang diinginkan, yaitu : kebangkitan dan balasan terhadap apa yang mereka kerjakan ketika didunia, karena sesunguhnya amalan-amalan yang mereka kerjakan tidak akan sia-sia, dan mereka (orang-orang kafir) menyangka bahwa  Allah menciptakan mereka secara main-main, 
Allah berfirman dalam surah al-Mu'minun : 115 
(أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ ) 
"maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?"
    Adalah suatu kesia-siaan jika Allah menciptakan alam semesta yang luas, dan manusia lega akan hal itu, bahagia, minum, makan, berbuat dusta, melakukan kekufuran, berbuat syirik, dan juga kezhaliman, kemudian Allah meninggalkan mereka begitu saja. Atau Allah menyia-nyiakan orang-orang beriman yang mengorbankan jiwa raga mereka untuk beramal shalih, mereka meghabiskan masa-masa hidup mereka dengan segala kebaikan, kemudian Allah meninggalkan mereka tanpa adanya balasan dan ganjaran, sungguh Allah tidak mungkin berbuat demikian. Orang-orang kafir saling bertanya-tanya tentang berita yang besar yaitu : berita yang menakjubkan yang dibawakan oleh Rasulullah Muhammad, dan juga para Rasul-rasul sebelumnya kepada ummat mereka, yaitu tentang kebangkitan setelah kematian. 
    Dan sesungguhnya Rasulullah Muhammad tidaklah membawa hal baru dalam dakwahnya, akan tetapi dia menyampaikan apa yang para Rasul sebelumnya pernah kabarkan kepada ummatnya, tujuan dari itu semua ialah kasih sayang para Rasul kepada ummatnya, agar mereka bersiap menghadapi kenyataan dari berita ini, agar mereka mempersiapkan diri mereka, dan tidak hanya sekedar makan dan minum serta besenang-senang di dunia, menjauhi segala hayalan tentang kesenangan lain yang akan diperbuat, demi memakmurkan hidup mereka di dunia, saling berlomba-lomba dalam merebut segala kehinaan dunia, menciptakan dan membuat hal baru, dan menyangka bahwa tidak ada penghabisan setelah kehidupan dunia, mereka menyangka bahwa tidak akan ada kiamat serta hari kebangkitan setelah kehidupan dunia. 
    Dan bentuk kasih sayang Allah kepada hambanya bahwa Dia tidak meninggalkan mereka begitu saja tenggelam dalam kefanaan dunia, akan tetapi Dia (Allah) mengingatkan mereka akan adanya kebangkitan setelah kematian dan juga balasan atas apa yang mereka lakukan di dunia, memerintahkan  hamba-Nya agar mempersiapkan diri dengan melakukan segala amalan kebaikan, agar mereka bertaubat dari dosa dan kesalahan yang mereka lakukan, semua itu adalah kasih sayang Allah kepada hambanya, dan kebaikan ALlah kepada hambanya ialah dengan mengutus para Rasul serta menurunkan kitab suci sebagai pedoman dan pembimbing bagi mereka kepada  jalan kebahagiaan, agar mereka mempersiapkan diri untuk menghadapi segala apa yang akan terjadi dihadapan mereka, akan tetapi mereka tidak menghiraukan akan hal itu dan menyia-nyiakannya, mereka hanya menyibukkan diri dengan kesenangan dunia yang hina,  mereka berlomba-lomba memperebutkan kekayaan dunia, mereka mengikuti dan mejadi hamba atas diri dan nafsu mereka,  akal dan fikiran mereka hanya fokus pada tawaran-tawaran dunia, dan mereka sama sekali tidak memikirkan apa yang akan mereka hadapi setelah kematian. 
    Dan pada hakikatnya setiap manusia leluasa menentukan pilihannya untuk mengambil kenikmatan dunia bagi dirinya, dan merupakan sebuah pemanfaatan yang tepat jikalau kenikmatan itu iya gunakan untuk mempermudah baginya dalam melakukan amal shalih, dan bukanlah menjadi tujuan ketika ia berjuang untuk menggapai nikmat dunia akan tetapi ia melupakan kehidupan akhirat begitupun sebaliknya ketika ia menyibukkan diri untuk akhiratnya mempersiapkan dirinya untuk itu akan tetapi ia lupa bahwa ada tanggung jawab yang harus ia lakukan didunia ini, maka seharusnya ia menggambil dari kenikmatan dunia sesuai apa yang dapat memudahkannya dalam beramal shalih. Inilah akal yang baik, dan inilah yang para Rasul ajarkan kepada ummatnya. 
    Tafsir Juz 'Amma / Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan Kemudian Allah ‘Azza Wa Jalla menjawab pertanyaan ini, dengan firman-Nya: { عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ (2) الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ } ”Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini” (QS. An-Naba:2-3) Berita ini maksudnya adalah berita yang datang dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berupa penjelasan-penjelasan dan petunjuk terutama kabar berita yang berkaitan tentang hari akhir, kebangkitan dan pembalasan. Orang-orang berselisih tentang berita ini yang telah datang dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dari mereka ada yang beriman dan membenarkannya, dan dari mereka ada yang kufur dan mendustakannya, di antara mereka juga ada yang ragu-ragu tentangnya. Maka Allah di sini menjelaskan bahwa mereka yang mendustakan akan mengetahui tentang berita yang mereka dustakan dengan sangat yakin, itu terjadi saat hari kiamat tiba: هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا تَأْوِيلَهُ يَوْمَ يَأْتِي تَأْوِيلُهُ يَقُولُ الَّذِينَ نَسُوهُ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ  “Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Qur'an itu (tentang hari kiamat), berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: "Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak”(QS. Al-A’raf: 53) 
    Tafsir Juz 'Amma / Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin : Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan tentang sesuatu yang mereka pertanyakan itu. Yakni tentang apa yang dibawa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berupa Al Qur’an yang menyebutkan tentang kebangkitan, pembalasan dan lain-lain yang merupakan kebenaran tanpa keraguan lagi. Akan tetapi, orang-orang yang mendustakan pertemuan Tuhan mereka tetap saja tidak beriman, meskipun didatangkan setiap ayat sampai mereka melihat azab yang pedih.


Disqus Comments

Comments